cegerigitaga

Dua Anak Broken Home Soal Menikah dan Pasangan

Share this:

Dua Anak Broken Home Soal Menikah dan Pasangan

Ini adalah sebagian kecil dari hasil bercerita panjang kali lebar antara dua wanita yang tengah membicarakan perihal calon pasangan. Dengan usia yang telah beranjak dari 25 tahun dan ditambah dengan banyaknya teman sebaya yang satu persatu telah menempuh jenjang pernikahan membuat topik pembicaraan seputar jodoh tidak bisa untuk dihindari.

Setelah berbicara banyak hal tentang pernikahan, menurutku pandangan seorang perempuan (dan tidak tertutup kemungkinan juga untuk laki-laki) tentang pernikahan itu dibentuk dari seperti apa pernikahan orang tuanya. Jika punya saudara yang sudah menikah maka gambaran dari pernikahan saudaranya tersebut juga akan mempengaruhi pandangannya soal pernikahan. Menurut kalian, orang yang dibesarkan oleh orang tua yang harmonis kira-kira punya pandangan soal pasangan hidup itu seperti apa ya?. Dan bagaimana dengan orang yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak akur dan sering berselisih antara satu sama lain?. Kira-kira pandangan anaknya soal pasangan hidup itu bagaimana?.

Berbicara soal broken home, tentunya lebih dekat dengan orang tua yang tidak akur dan sering terjadi perselisihan antara satu sama lain, walaupun itu tidak semuanya berujung dengan perceraian. Dan hal ini bisa jadi adalah “makanan sehari-hari” para anggota keluarga tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak-anak mereka. Jika sering terjadi perselisihan, emosi dimana-mana, saling tidak tahu satu sama lain, anak jauh dengan orang tuanya atau orang tua yang tidak peduli dengan anaknya, kurangnya apresiasi satu sama lain, pasti ada penyebabnya, kan!. Jadi, bagaimana pembicaraan anak broken home ini soal pasangan dan menikah?.

Menjadi orang tua yang menjadi idola dan panutan bagi anak-anak mereka rasanya sudah biasa dan memang seperti itu bagusnya. Bisa membanggakan orang tua sendiri di depan para teman-temannya pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tuanya. Tapi bagaimana jika menjadi orang tua dengan sosok yang tidak disukai oleh anak-anaknya?. Seperti apa jawaban mereka ketika teman sebayanya bertanya tentang “seperti apa orang tuamu?”. Kemana ya kira-kira sang anak mencari sosok idola mereka? Apakah orang tua orang lain? Jawabannya Ya, Bisa jadi!. Orang lain itu bisa siapa saja sebenarnya bahkan public figure yang diikutinya.

Pembicaraan dua anak broken home ini juga sampai mengenai perasaan iri kepada teman sebaya mereka dengan orang tua yang selalu mendukung dan peduli dengan keinginan anaknya. Bahkan disaat anaknya sudah mempunyai keluarga sendiri, orang tuanya tetap selalu ada untuk anak-anaknya. Timbulnya keinginan untuk bisa juga dekat dengan orang tua sendiri sehingga ada tempat untuk mengadu dan bercerita lelahnya kehidupan seiring bertambahnya usia.

(baca juga Pelajaran Hidup)

Selesai berbicara soal orang tua dan keluarga, kira-kira bagaimana mereka yang broken home ini menyoal soal pasangan dan menikah?. Yang pasti mereka broken home tidak ingin suatu saat nanti mendapati pasangan yang menjadikan mereka serupa dengan orang tua mereka. Tidak mau jika nanti punya rumah tangga yang penuh dengan konflik, tidak mau menciptakan keluarga yang saling tidak peduli antara satu dengan yang lainnya.

Mungkin ada yang mengutamakan kekayaan atau harta benda dan juga ada juga yang mengutamakan profesi dalam pekerjaan. Memang tidak mungkin dipungkiri bahwa hal tersebut juga penting dalam memilih pasangan. Semua orang juga tahu bahwa kehidupan setelah berumah tangga nanti pasti membutuhkan uang untuk menutupi berbagai kebutuhan. Tapi jika itupun semua ada, apakah itu bisa menjamin bahwa nanti akan menjadikan sebuah keluarga nanti akan harmonis?. Apakah kekayaan bisa menjadi tiket untuk keluarga yang hangat dan kompak? Jawabannya, tentu saja tidak. Ada juga keluarga yang walaupun dengan kondisi ekonomi yang tidak bagus tapi tetap memiliki hubungan yang harmonis. Mereka tetap saling peduli satu sama lain walaupun hidup serba kekurangan, iya kan?

Ada yang bisa memiliki segalanya tapi tidak memiliki komunikasi yang bagus dengan orang tua dan saudaranya. Ada yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan tapi minimnya kepedulian, kasih sayang dan keterbukaan sangat sulit dilakukan. Dan ternyata, tidak selamanya kemewahan dalam keluarga itu menjamin sebuah kenyamanan dalam jiwa.

Bisa saling menerima, menghargai dan menyayangi satu sama lain adalah bentuk penghargaan yang tidak ternilai ketika telah bersama nanti. Setidaknya, itu bisa menutupi minimnya kasih sayang dan perhatian keluarga waktu sebelum menikah. Membangun keluarga yang hangat dan kompak serta mempunyai anak-anak yang mendapati orang tua yang peduli dengan kehidupan mereka hingga dewasa nanti menjadi cita-cita yang tidak mungkin untuk dipungkiri.

Mendapati pasangan yang tepat tentunya tidak diharuskan dengan kondisi yang mesti diburu-buru. Seiring berjalannya waktu juga perlu berbenah dan memperbaiki diri terlebih dahulu. Selain itu, jangan lupa untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Karena, semua yang telah diberikannya pasti ada hikmahnya.

(cardigan outer batik ada banyak pilihan motif dan warna, klik di sini!)

Jadi kesimpulan dari percakapan yang ada faedahnya ini adalah pandangan seseorang soal menikah dan soal pasangan hidup itu sebagian besar dibentuk oleh kondisi keluarga seperti apa yang membesarkan orang tersebut. Jika ada orang yang punya pandangan berbeda atau mungkin dikira aneh soal menikah, ya bisa jadi itu karena keluarganya juga, ngga salah kan?. Jangan menghakimi mereka hanya karena mereka punya pandangan yang berbeda. Cobalah pahami mereka melalui kacamata mereka juga.

Setiap orang pasti mempunyai keinginan dan keinginan tersebut pasti adalah yang terbaik menurutnya. uhuy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *