cegerigitaga

Simpati dan Empati Yang Tidak Linear Dengan Intelektualitas

Share this:

Simpati dan Empati Yang Tidak Linear Dengan Intelektualitas

Sebagai makhluk sosial, kita juga pasti membutuhkan suatu bentuk simpati dan empati dari orang lain. Rasa simpati dan empati ini akan membuat seseorang setidaknya merasa lebih dipahami dengan perasaan atau kejadian yang sedang menimpanya.

Salah satu hal yang tidak diajarkan secara teori dan tertulis pada bangku pendidikan adalah tentang rasa simpati dan empati ini dalam kehidupan sehari-hari. Rasa angkuh, sombong, sifat saling cemooh dan merendahkan tidak jarang terjadi dalam kaum intelektual atau juga disebut dengan kaum terpelajar.

(baca juga Apresiasi Itu Mahal)

Mempunyai kelompok sosial yang berisikan kaum kaum intelektual atau terpelajar memang sebuah hal yang membanggakan. Bersama orang-orang yang memiliki segudang wawasan untuk bertukar pikiran menjadi impian dari banyak orang. Tapi, ternyata hal ini tidaklah berbanding lurus dengan rasa simpati dan empati yang dimiliki seseorang. Berharap dengan tingginya intelektualitas akan sama dengan tingginya simpati dan empati seseorang tidaklah selalu benar. Tidak jarang rasa simpati dari mereka yang bukan dari kaum intelektual akan lebih baik dari mereka yang intelektual.

Rasa ego dan ingin menang sendiri merupakan sifat yang tidak bisa disetting mentah mentah dalam bangku pendidikan. Berbicara soal ketulusan dan kepedulian terhadap kehidupan orang lain atau kehidupan sosial lebih erat kaitannya dengan mereka yang lebih mampu memahami suatu perjuangan atau perasaan orang lain.

(gantungan kunci akrilik dengan gambar-gambar yang lucu, klik di sini!)

Terkadang, tidak selamanya orang itu selalu butuh saran dan masukan dari kaum intelek. Tapi berharap bisa untuk dipahami akan membuat mereka menjadi lebih baik. Atau dengan kata lain, kita tidak selamanya butuh orang yang lebih pintar dari kita untuk membuat kita merasa lebih baik. Tapi, kita lebih butuh simpati dan empati yang tidak dibungkus dengan ceramah yang berkedok kepedulian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *